REAKTUALISASI MAKNA ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN
H. SAEFUL MALIK, S.Ag, M.Pd.I
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.، أَمَّا بَعْدُ: فَيَأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. وَقَالَ تَعَالَى: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. . صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمِ.
Hadirin Jamaah Jumat Hadaniyallahu wa iyyakum ajmaiin.
Puji Syukur kita sanjungkan ke Hadlirat Allah SWT Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah memperkenankan kita dapat melangkahkan kaki kita ke tempat yang Mulia yang penuh dengan keberkahan ini, untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita Shalat Jumat berjamaah. Semoga apa yang kita kerjakan dicatat oleh Allah SWT sebagai amal shalih yang akan kita petik di Yaumil Qiyamah nanti.
Shalawat serta salam semoga tercurah limpah pada Jungjungan kita Ustadznya sekalian Manusia yakni Nabi Muhammad SAW, juga kepada Para Keluarga, sahabat serta umatnya hingga hari akhir, termasuk kita selaku umatnya yang senantiasa berusaha mengamalkan setiap ajarannya.
Selanjutnya, Khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada Jamaah sekalian, mari bersama-sama untuk terus menerus meningkatkan Qualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan terus menerus melaksanakan Apa yang telah diperintahkanNya dan menjauhi apa yang dilarangNya.
Hadirin Jamaah Jumat Hadaniyallahu wa iyyakum ajmaiin.
Memasuki bulan Rajab tahun 1445 H ini, Izinkan Khatib untuk mengajak jamaah untuk bersama-sama menelisik kembali akan hakikat makna Islam Rahmatan Lil Alamin.yang kemudian melaksanakannya dalam kehidupan. Menurut hemat khatib, hal ini sangat relevan untuk dikemukakan saat ini, mengingat bulan Rajab adalah salah satu dari 4 bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, sebagaimana dipahami mufassir dari firman Allah SWT QS. At-Taubah [9]: 36 dan al-Baqarah [2]: 194.
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah [9]: 36)
Dan Firman Allah SWT,
اَلشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمٰتُ قِصَاصٌۗ فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“Bulan haram dengan bulan haram dan (terhadap) sesuatu yang dihormati berlaku (hukum) kisas. Oleh sebab itu, siapa yang menyerang kamu, seranglah setimpal dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah [2]: 194)
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimani wa rahimakumullah
Merujuk pandangan para Mufassir Bulan Rajab termasuk salah satu dari 4 bulan yang dimuliakan Allah SWT tersebut. Dimana pada Bulan Rajab di dalamnya dianjurkan untuk mulai melipatgandakan amal saleh, baik yang bersifat pribadi seperti puasa sunnah maupun yang bersifat sosial, seperti menjalin silaturahim, mengurai dan menyelesaikan problem sosial, dan lain-lain. Hal ini relevan juga untuk diingatkan kembali, karena kita sebagai bangsa Indonesia mulai memasuki tahun politik, yang kadang membuat lupa arti pentingnya persaudaraan, terutama persaudaraan sesama anak bangsa atau ukhuwwah wathaniyah.
Kita semua harus terus mengingat tentang hakikat dari makna Islam Rahmatan Lil ‘Alamin sebagai agama yang di bawa oleh Rasulullah SAW yang memang diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat yang luas dan besar bagi semesta alam atau Muhammad diutus sebagai bukti rahmat Allah bagi semesta alam. Sebagaimana di tegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al Anbiya [21] : 107)
Hadirin Jamaah Jum’at Rahimani wa Rahimakumullah
Allah SWT tidak membiarkan manusia hidup tanpa pegangan dan tuntunan sehingga terjerumus dalam jurang kenistaan dan jatuh pada titik puncak kehinaan. Untuk itulah, sebagai bukti kasih dan sayang-Nya, Allah SWT mengutus para rasul di tengah-tengah masyarakat. Para rasul inilah, termasuk Nabi Muhammad SAW yang membuka jalan petunjuk agar manusia dapat membangun kehidupannya dengan penuh cinta dan kedamaian, tanpa kekerasan, penuh keadilan tanpa diskriminasi dan perundungan, penuh toleransi dan tanpa kekerasan. Nabi Muhammad juga dikenal sebagai sosok nabi rahmah, nabi yang penuh kasih sayang. Bagaimana tidak, sosoknya tak henti dipuji dan kehidupannya tak kering dipelajari, meskipun pada saat yang sama, hinaan padanya juga terus terjadi dan bahkan sebagiannya diabadikan dalam kitab suci yang ia terima dari Rabbul izzati.
Sebagai, seorang manusia, Nabi Muhammad SAW pernah mengalami juga apa yang dialami manusia pada umumnya, seperti rasa kesal, gusar, kecewa, bingung, lelah, sedih, senang, dan lain-lain. Namun sisi manusiawi ini tidak menghilangkannya sebagai sosok teladan, sebagai role of Model sejatinya kehidupan manusia, seperti dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya, Qur'an Surat Al-Ahzab [33] ayat 21 :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33] ayat 21)
Hal ini karena beliau telah memancarkan rahmat Allah, sehingga realitas sosial yang tidak ideal dan tidak sesuai harapan dapat diatasi diantaranya melalui sikapnya yang penuh maaf. Belaiu tidak pernah menyimpan dendam, bahkan terhadap orang yang nyata-nyata menyakitinya. Nabi Muhammad SAW bahkan tidak hanya memaafkan mereka orang-orang yang berperilaku angkuh dan Jumawa, atau mereka yang menonjolkan supremasi dan kekuatan, membanggakan keturunan dan kebangsawanan, memamerkan kelihaian dan kecerdikan, menganggap sah melakukan kesewenang-wenangan dengan kelebihan yang dimiliki, namun juga mendoakan dan bahkan memohonkan ampunan.
Sikap ini lahir dari keagungan jiwa dan sikap positifnya terhadap masyarakat. Hukum bahwa manusia selalu jahat dan jahat tidak berlaku baginya. Manusia bisa berubah menjadi lebih baik, jika bukan dirinya sendiri saat ini, mungkin setelah keturunan atau generasi selanjutnya. Kedua sikap ini menjadi jalan refleksi dan rekonsiliasi, sehingga orang atau mereka yang pernah berbuat kesalahan tidak dipukul tapi dirangkul, tidak diinjak atau diejek tapi diajak, dibina bukan dihina, dididik bukan dibidik, diajar bukan dihajar, dan dinasehati bukan dicaci.
Jama’ah Jum’at yang berbagia.
Upaya menebar rahmah sebagaimana diajarkan dan dipraktekkan Rasul memang bukanlah sesuatu yang mudah dilaksanakan. Hanya orang yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT yang akan dapat mengatasi semua problem-problem yang dilakukan manusia. Orang seperti ini juga pastinya akan selalu menautkan hati, pikiran, dan langkahnya kepada Allah SWT. Ia sangat sadar bahwa keputusan dan hasil akhir bukan ditangannya, namun semuanya kembali pada kekuasaan Allah SWT, meskipun ia sangat menginginkannya. Sikap inilah yang lazim disebut tawakkal.
Allah SWT telah mengingatkan Rasulullah SAW dan kita umatnya, bahwa cara-cara kasar dan kekerasan yang lahir dari hati yang kerdil, keras, dan licik, tidak akan membuat manusia mendekat tapi malah menjauh dari circle dan lingkungan masyarakat yang baik. Sejarah mencatat, bahwa ajaran mulia dan mengajak manusia ke surga, sejahtera dan damai sejak di dunia, semuanya dilakukan dengan cara-cara yang ramah, adaptif, persuasif dan tidak memaksa.
Hadirin Jamaah Jum’at rahimakumullah.
Islam rahmatan lil-alamin tidak hanya tercermin dalam konteks relasi manusia dengan manusia, namun juga dengan seluruh makhluk Allah; hewan, tumbuh-tumbuhan, air, gunung, udara, tanah, laut, dan bahkan jin dan malaikat. Karena itu, agama Islam bukan saja mengajarkan ukhuwwah kepada semua makhluk, namun juga mengajarkan silaturahim baik dengan makhluk spiritual maupun silaturahim dengan alam.
Dua landasan itulah yang menjadikan semua makhluk merasakan rahmat atas kehadiran Rasul dan Islam yang diajarkannya. Hewan sebagai makhluk merasakan rahmah atas kehadiran Rasulullah, karena Rasulullah melarang bersikap sewenang-wenang terhadap hewan, bahkan sampai ketika kita akan menyembelihnya ada adab yang harus dilaksanakan. Alam, secara keseluruhan juga mendapat rahmat, karena Allah melalui lisan Nabi-Nya melarang merusak alam. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah dalam Qur'an Surat al-A’raf [7] ayat 85 :
وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ
“Kepada penduduk Madyan, Kami (utus) saudara mereka, Syuʻaib. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada bagimu tuhan (yang disembah) selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka, sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah merugikan (hak-hak) orang lain sedikit pun. Jangan (pula) berbuat kerusakan di bumi setelah perbaikannya. Itulah lebih baik bagimu, jika kamu beriman.” (QS. al-A’raf [7] ayat 85)
Dengan demikian makna dari Islam Rahmatan Lil ‘Alamin adalah Islam yang anti kekerasan, Islam yang penganutnya anti membuat kerusakan, pantang menghina, merendahkan atau memberi label negatif kepada orang lain, menjauhi prejudice (su’udzan), mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus) dan ghibah. Yang kuat melindungi yang lemah, tidak berperilaku yang merugikan diri dan orang lain, adil, bersikap ihsan terhadap semua makhluk, bersikap moderat (tawasuth) dan seimbang (tawazun), bersikap toleran (tasamuh) terhadap perbedaan.
Islam Rahmatan Lil ‘Alamin juga bisa bermakna ketika suatu waktu relasi sosial terancam atau terganggu atau bahkan cenderung mengarah ke konflik, maka orang-orang Islam akan sangat mudah untuk memaafkan, mendoakan, musyawarah dan bertawakkal kepada Allah SWT. Musyawarah tidak akan terjadi andai pintu maaf belum terbuka. Mendoakan orang yang berbuat salah terhadap kita juga hampir mustahil, bila belum dibuka pintu maaf.
Karena itu kunci rekonsiliasi atau islah adalah memaafkan dimulai dengan cara bermusofahah, bersalaman dan mengembalikan hak-hak yang terampas. Karena basis Islam Rahmatan Lil ‘Alamin adalah ukhuwwah dan silaturahim. Islam Rahmatan Lil ‘Alamin adalah maqasidul ‘am lis syari’ah, bahwa muara dari ajaran Islam adalah maslahah, kasih-sayang, dan kedamaian.
Harapannya, semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita selaku orang Muslim dengan hidayah-Nya, agar kita selalu memiliki sifat pemaaf, toleran dan mendahulukan musyawarah didalam mengambil suatu keputusan, sehingga implikasinya akan mewujudkan masyarakat yang damai, tentram, rukun, sejahtera dalam keadilan, menjadi pondasi wujudnya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur. Aamiin.
بَارَكَ الله ُ لِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ الله ُمِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَيُّهاَ الّنَاس, اتَّقُوا اللهَ, اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ تعالى: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ . رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْن . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.