Pencarian

>

EMPAT PILAR HAJI MABRUR

EMPAT PILAR HAJI MABRUR

Oleh: Abu Cecen A. Khusaeri

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ حَجَّ بَيْتِهِ الأَمِيْنِ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الدِّيْنِ، وَشَعِيْرَةً مِنْ شَعَائِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ،,

 أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْقَائِلُ فِيْ كِتَابِهِ الْمُبِيْنِ , وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأمِيْنِ ,

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ .

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .

فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ , بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ,

وَ لِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللّٰهَ غَنِىٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ .


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumulloh !

Salah satu ibadah yang menjadi idaman setiap Muslim adalah ibadah haji, namun tentu ibadah yang satu ini tidak mudah untuk dicapai, sebab selain memerlukan biaya yang cukup besar, juga memerlukan kesabaran ekstra menunggu jadwal keberangkatan yang begitu lama. Hal ini disebabkan jumlah calon jamaah yang mendaftar, tiap tahun mengalami peningkatan, sehingga calon jamaah harus menunggu belasan tahun, untuk bisa sampai ke Baitullah. 

Jika dibandingkan dengan ibadah lainnya, ibadah haji mempunyai keistimewaan tersendiri, bukan hanya bisa berkunjung ke tempat-tempat mulia sebagaimana disyariatkan dalam Islam, lebih dari itu, bagi yang hajinya mabrur dijanjikan pahala yakni surga Jannatun-Naim. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

أَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tiada balasan yang lebih pantas baginya kecuali surga”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun tentunya menggapai derajat haji mabrur tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, sebab memerlukan perjuangan yang mesti dilaksanakan secara serius dan kontinue. Untuk menopang kemabruran haji tersebut, Paling tidak  ada empat pilar yang mesti diperjuangkan dan dipertahankan selama hidupnya. Sehingga andaikan ada satu saja pilar yang runtuh, akan rusak pula kemabruran hajinya.

Hadirin Rahimakumullah !

Adapun pilar pertama adalah niat, merupakan pondasi dari semua ibadah, termasuk ibadah haji didalamnya. Maka apabila seseorang hendak melaksanakan ibadah haji mesti dengan niat yang lurus, semata-mata mencari kecintaan dan keridhaan Allah SWT. Oleh karena itu dalam Al-Qur’anul-karim, ayat tentang kewajiban haji ini diawali dengan kalimat Walillahi. Sebagaimana Allah SWT mengisyaratkan dalam Al-Qur’an:

وَ لِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللّٰهَ غَنِىٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ 

“(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam..” (QS. Ali Imran : 97).

Pada ayat lain  Allah SWT berfirman:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah itu karena Allah”. (QS. Al-Baqarah: 196)

Allah WT akan mencatat keberangkatan ke Makkah itu sesuai dengan niatnya masing-masing, apakah untuk ibadah, untuk dagang atau hanya tamsya saja. Isyarat ini pernah disampaikan  oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

يَأتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يحُجُّ أَغْنِيَاءُهُمْ لِلنـُزْهَةِ ، وَأَوسَاطُهُمْ لِلتِّجَارَةِ ، وَقُرَاؤُهُمْ لِلرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَفُقَرَاؤُهُمْ لِلمَسْأَلَةِ

"Akan datang pada manusia suatu zaman dimana orang orang kaya pergi haji karena Tamasya, orang kalangan menengah karena berdagang, orang Ahli qiro'ah karena riya dan sum'ah, dan golongan fakir karena meminta2..."

Hadirin yang berbahagia !

Adapun pilar yang kedua adalah biaya perjalanan haji. Yakni biaya yang akan dipakai sebagai ongkos ibadah haji dan biaya hidup selama berada di tanah suci, merupakan merupakan pondasi penentu kemabruran haji setelah niat. Oleh karena itu biaya haji harus benar-benar rizki yang didapatkan dengan cara yang halal. 

Rasulullah SAW bersabda, bahwa seseorang yang berhaji dengan rezeki yang halal, kemudian dia bertalbiah, seraya berdoa labbaikallahumma labbaik, maka Allah akan menjawab:

زَادُكَ حَلاَلٌ، وَرَاحَلَتُكَ حَلاَلٌ، وَحَجُّكَ مَبْرُوْرٌ

“biaya perjalananmu halal, kendaraanmu halal dan hajimu mabrur”.

Namun  sebaliknya, mana kala berangkat haji dengan harta yang kotor atau tercampur hasil haram, Allah SWT niscaya akan menolak hajinya. 

لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ، زَادُكَ حَرَامٌ، وَنَفَقَتُكَ حَرَامٌ، وَحَجُّكَ مَأْزُوْرٌ غَيْرَ مَأْجُوْرٍ

“tidak ada “labbaik” tidak ada “sa’daik”, biaya hajimu haram, nafkah kehidupanmu juga haram dan hajimu sia-sia tanpa pahala”.

 Jamaah Jum’at yang berbahagia!

Pilar yang ketiga adalah Kaefiat haji yang baik dan benar, yakni melaksanakan manasik haji sesuai dengan tuntunan syari’at Islam. Oleh karena itu para calon jamaah haji harus benar-benar mempelajari agar memahami ilmu Agama, mempelajari dengan sesungguhnya tentang manasik haji, agar dapat melaksanakan apa yang dimaksud dengan syarat, rukun dan bahkan sunnah-sunnah haji dengan sebaik-baiknya.

Selama kurang lebih satu bulan di Mekkah Al-Mukarromah dan sekitar sepuluh hari di Madinah Al-Munawwaroh, benar-benar dimanfaatkan sebagai moment untuk ibadah menambah pundi-pundi amal kebaikan untuk bekal di yaumil akhir nanti.  Bukan menghambur-hamburkan waktu dan tenaga dan uang untuk mencari hal-hal yang sedikit manfaatnya, seperti berbelanja, mencari barang-barang, baik untuk pribadi atau untuk oleh-oleh agar dirinya disebut hebat dan kaya raya.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah !

Adapun pilar yang keempat adalah menjaga kemabruran haji setelah pulang dari tanah Suci ke tanah airnya masing-masing. Yakni bisa mempertahankan kesolehan akhlaknya, dan bisa dijadikan suri tauladan, baik dalam lingkungan rumah tangganya, juga dalam hidup bermasyarakat dengan lingkungan sekelilingnya.

Sedang bukti bahwa haji seseorang itu maqbul atau mabrur, adalah ia kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi perbuatan maksiat. 

وَقِيلَ : هُوَ الْمَقْبُولُ الْمُقَابَلُ بِالْبِرِّ وَهُوَ الثَّوَابُ، وَمِنْ عَلَامَةِ الْقَبُولِ أَنْ يَرْجِعَ خَيْرًا مِمَّا كَانَ وَلَا يُعَاوِدَ الْمَعَاصِي 


“Ada pendapat yang mengatakan: ‘Haji mabrur adalah haji yang diterima yang dibalas dengan kebaikan yaitu pahala. Sedangkan pertanda diterimanya haji seseorang adalah kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi melakukan kemaksiatan.” (Jalaluddin as-Suyuthi, Syarhus Suyuthi). 

Mudah-mudahan para jamaah haji menjadi haji yang mabrur, adapun yang belum berhaji semoga dimudahkan rizkinya agar melaksanakan ibadah ini pada saatnya. Dan Allah SWT senantiasa menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamiin ya Rabbal-alamiin !

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

KHUTBAH KEDUA:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى،. 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ , 

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدٰى .

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ , اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . 

وَقَالَ اللّٰهُ تَعاَلَى : إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْن اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ,

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ,

اللّٰهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا ,

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالنَّاصِرِيْنَ , وَافْتَحْلَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالْفَاتِحِيْنَ , وَاغْفِرْلَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالْغَافِرِيْنَ , وَارْحَمْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ , وَارْزُقْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالرَّازِقِيْنَ  , وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا ِمنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ . 

رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

عِبَادَ اللّٰهِ،, اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.