Peringatan Hari Santri Nasional (22 Oktober)
PERAN SANTRI DALAM PEMBANGUNAN BANGSA
Oleh: Cecen Ahmad Khusaeri
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْئٍ خَبْرًا، وَجَعَلَ لِكُلّ شَيْئٍ قَدْرًا، وَأَسْبَغَ عَلَى الْخَلَائِقِ مَنْ حَفَظَهُ سَتْرًا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً بَشِيْرًا وَّنَذَيْرًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ , وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا عَلَى الْحَقِّ اَنْصَارًا .
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .
وَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ , بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِيْ الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ .
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah !
Sejak tanggal 15 Oktober 2015 pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional yang disingkat HSN. Mulai saat itulah selalu diperingati sebagai momentum meneladani semangat jihad para pendahulu kita, dengan mengusung semangat kebangsaan, semangat cinta tanah air, semangat rela berkorban untuk bangsa dan negara.
Tanggal 22 Oktober mengingatkan pada suatu peristiwa yang menggelorakan semangat dan menggerakkan perjuangan santri bersama rakyat secara bahu membahu untuk melawan kolonialisme Belanda, di mana ketika itu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari mengumandangkan Resolusi Jihad melawan Belanda (NICA) yang hendak mencoba kembali untuk menjajah Indonesia. Beliau meneriakan semboyan:
حُبُّ الْوَطَانِ مِنَ الْإِيْمَانِ
“Cinta tanah air sebagian dari Iman”.
Hadirin Rahimakumullah !
Sekarang Indonesia sudah merdeka, tidak lagi mengalami kolonialisme seperti beberapa puluh tahun silam, oleh karena bentuk patriotisme terhadap negara di zaman sekarang mestinya berbeda dengan zaman dahulu. Saat sekarang musuh kita bukan lagi koloni tetapi kebodohan dan kemalasan, karena akan membuat negara menjadi tidak maju.
Oleh karena itu, santri tidak lagi mengangkat senjata untuk berperang, namun menghilangkan kemalasan dan mengangkat pena dan menimba ilmu agama di pondok pesantren, agar bisa membangun negeri tercinta dalam bidang ilmu agama.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah !
Santri merupakan salah satu elemen bangsa, adalah pilihan Allah SWT yang nantinya akan berjuang mempertahanan dan membela bangsa ini di bidang pengetuan Agama. Bagaimana jadinya apabila tidak ada lagi santri, tentu di masa mendatang tidak akan ada ulama yang akan membimbing negeri ini dalam ilmu agama dan keshalehan.
Allah SWT berfirman:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِيْ الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ .
Surat At-Taubah ayat 122 ini berkaitan dengan ayat lainnya yakni kewajiban umat Islam pergi ke medan perang untuk membela Agamanya, sehingga kaum Mukminin dicela oleh Allah apabila tidak ikut ke medan perang. Kemudian Nabi saw. mengirimkan sariyahnya, untuk berangkat ke medan perang semua tanpa ada seorang pun yang tinggal, maka turunlah firman-Nya berikut ini:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَّةً
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi (ke medan perang) semuanya.”
فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِيْ الدِّينِ
“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama”
وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
“untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Dengan demikian, di ayat ini Allah Azza wa Jalla menerangkan bahwa tidak semua orang mukmin mesti berangkat ke medan pertempuran. Apabila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin saja, harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang dan sebagian lagi harus menuntut ilmu dan mendalami agama Islam, agar dapat diajarkan kepada mereka yang pulang dari pertempuran itu.
Hadirin yang Berbahagia !
Perang bertujuan untuk mengalahkan musuh-musuh negara serta mengamankan jalannya pemerintahan dan membangun negara agar tercipta kedamaian. Sedang menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama bertujuan untuk mencerdaskan umat agar dapat hidup dengan aturan Islam, sehingga bisa mengisi negara dengan aturan yang benar. Hal ini adalah tujuan dakwah Islamiyah yang mesti dipahami dan disebarluaskan oleh semua lapisan masyarakat. Rasulullah SAW bersabda:
بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ اٰيَةً (رواه البخارى)
“Sampaikanlah olehmu (apa-apa yang telah kamu peroleh) dari padaku, walaupun hanya satu ayat Al-Qur’an saja. (HR. Bukhari)”
Oleh sebab itu harus ada sebagian dari umat Islam yang menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu-ilmu agama, agar kemudian setelah mereka selesai dan kembali ke masyarakat, mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut serta menjalankan dakwah Islamiyah dengan cara dan metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.
HadirinRahimakumullah !
Santri merupakan pejuang bangsa dalam bidang ilmu Agama. Mereka rela bertahun-tahun meninggalkan keluarganya, agar mendapatkan ilmu yang akan membawa kemaslahatan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Menagapa tidak? kecerdasan pengetahuan apabila tidak diimbangi oleh akidah yang kuat, hanya akan menjadi bumerang terhadap dirinya bahkan terhadap kelangsungan bangsa ini.
Demikian pula kecerdasan ilmu agama, andaikan tidak dibarengi dengan pengetahuan umum yang memadai, maka akan menciptakan kepincangan dalam kehidupan bangsa ini. Dengan pengetahuan yang luas, kontribusi terhadap kemajuan dan kemakmuran negeri dapat dilakukan secara lebih. Namun pada perkembangannya peran santri pun meluas, tidak saja dalam bidang keagamaan, namun dalam bidang politik yang sudah sedari dahulu telah dilaksanakan.
Keseimbangan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum lainnya, hendaknya menciptakan keseimbangan dalam membangun bangsa, sehingga dengan keluasan ilmu dan kearifan dari para santri, nantinya tidak ada lagi kedangkalan pemikiran yang memicu konflik berbangsa dan bernegara yang mengatasnamakan Agama, memunculkan pola fikir ego keyakinan masing-masing yang akan merasa paling benar sendiri dan menyalahkan orang lain yang tidak sependapat dengan dirinya, kemudian melahirkan pikiran dan tindakan radikalisme yang tentunya tidak diharapkan oleh kita semua.
Hadirin yang Berbahagia !
Mudah-mudahan perjuangan para santri di pondok-pondok pesantren, melahirkan para ulama berkwalitas, yang akan membawa ketenangan dalam berbangsa dan bernegara menuju negari yang baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Aamiin Yaa Mujiibas-sailiin !
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ،, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .
KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى،.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اَلْعَلِيُّ الْأَعْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ النَّبِيُّ الْمُصْطَفٰى وَالرَّسُوْلُ الْمُجْتَبٰى .،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدٰى .
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ : اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .
وَقَالَ اللّٰهُ تَعاَلَى : إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْن اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ,
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالنَّاصِرِيْنَ , وَافْتَحْلَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالْفَاتِحِيْنَ , وَاغْفِرْلَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالْغَافِرِيْنَ , وَارْحَمْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ , وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا ِمنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ .
رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ،, اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ .
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ .