NASIHAT UNTUK DUNIA
Oleh: Cecen Ahmad Khusaeri
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ بِرَحْمَتِهِ اهْتَدَى الْمُهْتَدُوْنَ، وَبِعَدْلِهِ وَحِكْمَتِهِ ضَلَّ الضَالُّوْنَ .
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، تَرَكْنَا عَلَى مَحجَّةٍ بَيْضَاءَ لَا يَزِيْغُ عَنْهَا إِلاَّ أهُلُ الْأَهْوَاءِوَالظُّنُّوْنِ .،
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمٍ لَا يَنْفَعُ فِيْهِ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ .
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .
وَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ , بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .
قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَكَفَرْتُمْ بِهٖ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى مِثْلِهٖ فَاٰمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ .
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah !
Pada bulan Muharam ini, marilah kita mengingat kembali perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makah ke Yatsrib yang kemudian namanya menjadi kota Madinah, selanjutnya dinobatkan sebagai nama tahun Islam yang disebut tahun Hijriyah.
Dalam sejarah Islam dijelaskan, bahwa kedatangan Rasulullah SAW ke kota Yatsrib adalah pada hari Jumat tanggal 12 Rabiul Awal. Tentu saja disambut gembira oleh masyarakat Madinah yang disebut dengan kaum Anshar, mereka berbondong-bondong ingin tahu dan ingin melihat langsung bagaimana tentang sosok orang yang mereka cintai, yakni Nabi Muhammad SAW.
Disaat umat Islam muhajir (dari Mekah) dan anshar (penduduk asi Yatsrib) berkumpul menyambut kedatangan orang yang dicintainya. Saat itu hadir sosok yang bernama Husen bin Salam, yakni seorang penganut yahudi cerdas dan terhormat di kota Yatsrib, Menurut sejarah konon beliau masih keturunan nabi Yusuf AS. juga banyak tahu akan kitab suci umat nabi Musa AS. Konon setelah Husen bin Salam berikrar dua kalimat syahadat, namanya berganti menjadi Abdullah bin Salam.
Hadirin Rahimakumullah !
Abdullah bin Salam menceritakan dalam hadisnya, tentang kesan pertama saat berjumpa Nabi SAW, dan bagaimana sekilas suasana ketika itu. Saat itu orang-orang berteriak bahagia, “Rasul telah tiba!” hingga tiga kali. Mereka berduyun-duyun mengerumuni baginda Nabi Muhammad SAW yang ketika itu masih baru sampai di daerah Quba’. Dengan hanya melihat wajah beliau saja, muncul benih-benih keimanan dalam hati Abdullah bin Salam, beliau langsung percaya dan membenarkan nabi Muhammad SAW. Hal ini kemudian diabadikan dalam Alquran al-Ahqof: 10. Allah SWT berfirman:
قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَكَفَرْتُمْ بِهٖ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى مِثْلِهٖ فَاٰمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ .ࣖ
“Katakanlah, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya (Al-Qur'an) ini datang dari Allah dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an lalu dia beriman, kamu menyombongkan diri. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al-ahqaf: 110).
Menurut pendapat mufassir, sosok yang dimaksud dalam kalimat: ( وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ)
tersebut adalah Abdullah bin Salam. Dimana beliau pada saat itu menilai Rasulullah secara objektiv, sehingga mau menerima kebenaran yang disampaikan Beliau SAW.
Hadirin Rahimakumullah !
Saat tiba di kota Yatsrib, Rasulullah SAW menyampaikan beberapa nasihat yang membuat Husen bin Salam memutuskan masuk Islam, untuk mengikuti ajaran yang dibawa Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah SAW bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوْا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوْا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
"Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah di malam hari ketika orang-orang tengah tertidur. Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.’” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Al-Hakim).
Dalam hadits ini ada empat nasihat penting yang mesti dipegang dan diamalkan oleh umat Islam, agar mencapai ketenangan dalam hidup di dunia kini dan menggapai kebahagiaan di akhirat kelak.
Nasihat Pertama, “Afsyus-salam atau Sebarkanlah salam !”.
Nasihat yang disampaikan Rasulullah dihadapan orang-orang Mekah dan orang Yatsrib, menjelaskan bahwa menyebarkan salam ini merupakan tugas pertama kali bagi umat Islam. Dengan kata lain kemanapun kita pergi dan dengan siapapun kita bertemu, haruslah dengan tujuan untuk saling menyeamatkan, bukan saling membenci dan saling menghujat.
Hadirin yang Berbahagia !
Nasihat kedua adalah, “berilah makan !”.
Saling mengasihi satu dengan yang lain, diantaranya adalah dengan memperhatikan perutnya, agar tidak lagi kelaparan. Sehingga diharapkan agar umat Islam menjadi umat yang empati terhadap kebutuhan orang yang kesusahan. Dalam hal ini banyak sekali hadits Rasulullah tentang pentingnya saling memberi dan saling mengasihi. Diantaranya, sebagaimana Rasulullah bersabda:
اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللّٰهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللّٰهُ
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.”
Nasihat ketiga adalah, “sambungkan kasih sayang !”.
Jalinan kasih sayang merupakan nutrisi hati yang mampu memotivasi hidup dan bekerja secara lebih produktif. Dalam kata lain sering disebut dengan kalimat silaturahmi.
Menyambungkan tali kasih sayang atau silaturahmi ini akan membawa dua manfaat, yakni manfaat dalam kehidupan dunia seperti dilapangkan rezeki. Ini terjadi karena adanya komunikasi dan interaksi sehingga ada tukar-menukar pikiran (gagasan), barang dan jasa. Juga dipanjangkan umur, baik secara harfiah yang berarti umurnya memang benar-benar panjang usia, maupun secara maknawi yang berarti hidupnya berkah kendati umurnya tidak panjang.
Nasihat keempat, “shalatlah tatkala orang sedang tidur !”.
Melaksanakan shalat tatkala orang sedang tidur, dimaksudkan adalah shalat tahajud, tentu saja setelah shalat wajib dilaksanakan dengan sempurna. Sebab ibadah shalat merupkan ritual ibadah mahdhah, sebagai pembuktian atas keimanannya dalam menjalankan syariat Islam.
Seseorang yang melaksanakan shalat, seyogyanya akan bisa berjalan dengan penuh kehati-hatian. Sehingga ibadah shalatnya akan membawa kepada ketakwaan yang sempurna, yakni dimana saja berada akan merasa bahwa dirinya ada dalam pegawasan Allah SWT.
Hadirin Rahimakumullah !
Empat Nasihat Rasulllah SAW untuk masyarakat Muhajir dan Anshar, konon meluluhkan hati Husen bin Salam, sehingga beliau meninggalkan Agama yang dianutnya kemudian berpindah memeluk Agama Islam dengan tanpa paksaan. Hal demikian adalah karena memahami pesan Rasulullah tadi bahwa Islam seyogianya membawa terhadap keselamatan diri dan orang lain. Bukan hanya untuk umat seagama, melainkan akan membawa kemaslahatan dalam menjalin pergaulan dengan berbagai elemen Agama.
Oleh karena itu, nasihat-nasihat Rasulullah ini merupakan nasihat untuk seluruh penduduk dunia, agar bisa hidup tenang dan berdampingan satu sama yang lainnya yang menuju terhadap perdamaian pribadi, masyarakat, negara bahkan dunia.
Aamiin Yaa Mujiibas-sailiin !
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ،, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .
KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى،.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اَلْعَلِيُّ الْأَعْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ النَّبِيُّ الْمُصْطَفٰى وَالرَّسُوْلُ الْمُجْتَبٰى .،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدٰى .
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ : اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .
وَقَالَ اللّٰهُ تَعاَلَى : إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْن اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ,
اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالنَّاصِرِيْنَ , وَافْتَحْلَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالْفَاتِحِيْنَ , وَاغْفِرْلَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالْغَافِرِيْنَ , وَارْحَمْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ , وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا ِمنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ .
رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ،, اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.