Pencarian

>

MENATA DIRI MENYAMBUT IDUL FITRI

MENATA DIRI MENYAMBUT IDUL FITRI

Oleh: H. Wiwin, S.Ag., M.I.Kom.


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ وَالْاِحْسَانِ اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ، اَلْكَرِيْمِ الَّذِيْ تَأَذَّنَ بِالْمَزِيْدِ لِذَوِي الشُّكْرَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ

أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ، عَالِمُ الظَّاهِرِ وَمَا انْطَوَى عَلَيْهِ الْجَنَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللّٰهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ


Hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah!

Saat ini kita semua berada di penghujung bulan Ramadan. Artinya beberapa hari lagi, sebentar lagi kita semua akan tiba di hari kemenangan, yakni hari raya Idul Fitri. 

Hari raya Idul Fitri sering diartikan sebagai hari kembalinya manusia kepada kesucian. Sebab secara bahasa, Idul Fitri memang mengandung arti kembali kepada fitrah, alias kembali kepada kesucian.

Makna bahwa hari raya Idul Fitri merupakan hari kembalinya manusia kepada kesucian tidak terjadi begitu saja. Hal itu ada latar belakangnya. Dalam hal ini dilatarbelakangi oleh suatu rangkaian aktivitas peribadatan yang dilakukan oleh kaum muslimin di bulan Ramadan.

Selama bulan Ramadan kaum muslimin melaksanakan ibadah puasa dengan didasari keimanan dan mengharap Ridho-Nya, disertai dengan ibadah-ibadah lainnya. Itulah yang menjadikan kaum muslimin bisa kembali kepada kesucian di hari raya Idul Fitri.

Hal itu sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:

أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَهْرٌ كَتَبَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ)) رواه إبن ماجه/ ١٣١٨ (٨

Sesungguhnya Rasulullah SAW menyebut-nyebut bulan Ramadan, beliau bersabda: ”(Ramadan) adalah bulan yang Allah mewajibkan kalian berpuasa dan aku sunnahkan shalat di malam harinya. Barangsiapa berpuasa di siangnya dan bangun di malamnya karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya akan keluar seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ibnu Majah/1318).


Hadirin jama’ah jum’at yang berbahagia!

Dengan demikian, kita tidak bisa tiba di hari raya Idul Fitri dalam keadaan suci bersih jika sebelumnya tidak ada aktivitas ibadah yang dilakukan. Dalam hal ini berarti kita harus menata diri, harus mempersiapkan diri dalam menghadapi hari raya Idul Fitri. Caranya dengan melakukan aktvitas ibadah, terutama ibadah yang wajib dengan sebaik-baiknya.

Masih ada kesempatan beberapa hari ke depan untuk melaksanakan ibadah puasa kita, shalat kita, dan ibadah-ibadah lainnya dengan sebaik-baiknya. Kita perbaiki hal-hal yang kurang dari semua ibadah yang telah kita laksanakan sebelumnya itu. 

Jika ada hal-hal yang kurang dari semua ibadah yang telah kita laksanakan, mudah-mudahan dengan perbaikan-perbaikan di akhir bulan Ramadan menjadikan semua ibadah kita di bulan Ramadan ini menjadi “husnul khatimah”. Dengan begitu kita semua bisa tiba di di hari raya Idul Fitri dalam keadaan suci bersih seperti bayi yang baru dilahirkan.

Selain itu kita jangan lupakan juga bahwa tujuan dari ibadah puasa itu agar kita semua menjadi orang yang bertakwa. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah ayat 183: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian. Mudah-mudahan kalian menjadi orang yang bertakwa”.


Hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah!

Takwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. Waqa juga bermakna melindungi sesuatu. Secara bahasa takwa sering didefinisikan dengan “Imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi” (mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya). 

Menurut Ali Bin Abi Thalib Radiyaallhu ‘Anhu bahwa takwa itu adalah al-khaufu minal Jaliil (takut kepada Allah Yang Maha Agung), al-’amal bil tanziili (mengamalkan al-Qur’an dan As-Sunah), al-Ridha bil qaliil (Ridha atas rezeki yang sedikit), dan al-isti’dad liyaum al-Rahiil (mempersiapkan diri untuk perjalanan di akhirat).

Menjadi orang yang bertakwa adalah orang yang sangat luar biasa. Sebab Allah SWT memberikan banyak keutamaan terhadap orang-orang yang bertakwa. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat suci Al-Qur’an. 

Antara lain pertama, Allah SWT akan menempatkan orang-orang yang bertakwa di dalam surga-Nya. Hal itu seperti disebutkan dalam QS. Qomar [54] : 54-55.

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّنَهَرٍۙ فِيْ مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُّقْتَدِرٍ ࣖ 

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa ada di taman-taman dan di sungai-sungai. Di tempat yang benar di sisi Allah yang Maha Kuasa.”

Kedua, Allah SWT memberi jalan keluar dan kemudahan. Hal itu seperti disebutkan dalam QS. Ath-Thalaaq [65] : 2 dan 4.

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ 

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا 

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah akan diberi jalan keluar. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memudahkan segala urusanny.”

Ketiga, Allah SWT akan mengampuni segala kesalahannya. Hal itu seperti disebutkan dalam QS. Ath-Thalaaq [65] : 5.

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّاٰتِهٖ وَيُعْظِمْ لَهٗٓ اَجْرًا 

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Dia akan menghapuskan segala kesalahannya dan baginya balasan yang besar.”

Itu hanya sebagian dari keutamaan yang diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang bertakwa. Selain itu masih banyak lagi keutamaan lain yang diberikan dan dijanjikan Allah SWT kepada orang-orang yang bertakwa.


Hadirin yang dirahmati Allah 

Sebagai kesimpulan dari khutbah ini marilah sambut hari raya Idul Fitri yang sebentar lagi akan tiba dengan menata diri kita, yakni dengan melaksanakan ibadah puasa di sisa bulan Ramadan ini secara maksimal, dengan sebaik-baiknya. Tentu saja kita maksimalkan juga ibadah shalat wajib kita dan memperbanyak melaksanakan amal ibadah lainnya. Mudah-mudahan dengan begitu kita bisa mencapai derajat takwa, sehingga kita tiba di hari Raya Idul Fitri dalam keadaan bersih suci.

Jangan lupa di hari raya Idul Fitri nanti kita juga jalin silaturahmi dan hubungan yang lebih baik dengan kerabat kita, sahabat kita, tetangga kita, dan pihak-pihak lainnya. Kita jalin hubungan yang lebih rukun, toleran, saling menghormati dan saling menghargai satu sama lainnya.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khotbah Kedua 


اَلْحَمْدُ للَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيْدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ وَلَا رَسُوْلَ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

قَالَ اللّه تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. إِنَّ ٱللَّهَ وَ مَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ، يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ، وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ، وَاغْفِرْ لَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْن، وَارْحَمْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ، وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.  رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.  رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.  سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.  وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةَ.