Pencarian

>

LIMA RESEP KEHIDUPAN

LIMA RESEP KEHIDUPAN

Oleh: Cecen Ahmad Khusaeri


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ جَعَلَ الْحَمْدَ مِفْتَاحًا لِذِكْرِهِ،, وَجَعَلَ الشُّكْرَ سَبَبًا لِلْمَزِيْدِ مِنْ فَضْلِهِ .

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ .

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ .

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ عِبَادَاللّٰهِ , اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . 

وَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ , بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ .


Maasyiral Muslimin Rahimakumullah !

Hidup ini memang teramat singkat, tidak ada seorang manusia yang mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi di hari esok, hingga tidak sedikit rencananya gagal ditelan ajal maut menjemput. Kita tak pernah menghitung berapa sanak famili yang pergi mendahului kita. Bahkan hampir setiap hari ada saja berita wafat Innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, tiap yang bernyawa pasti akan mati. Allah SWT berfirman:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun”. (QS. Al-A’raf: 34).


Hadirin Rahimakumullah !

Agama Islam hadir untuk mengatur segala urusan duniawi, agar hidup bahagia berdampingan dengan sesama makhluk di dunia kini, terlebih lagi agar bahagia di akhirat kelak. Baginda Rasulullah SAW pernah menyampaikan resep kehidupan ini kepada sahabat Abu Hurairah RA empat belas abad yang lampau.

Untuk itu, marilah sama-sama kita renungkan nasihat yang pernah disampaikan Rasulullah SAW kepada Abu Hurairah RA. Beliau bersabda:

مَنْ يَأْخُذُ عَنِّيْ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلَ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ ؟؟ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ : فَقُلْتُ أَنَا يَا رَسُولَ اللّٰهِ .، فَأَخَذَ بِيَدِيْ فَعَدَّ خَمْسًا 

“Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat dariku lalu mengamalkannya atau disampaikan pada orang untuk mengamalkannya?” Abu Hurairah menjawab: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Maka Rasulullah meraih tanganku (tangan Abu Hurairah) lalu menyampaikan lima nasihat" (H.R Ahmad dan Tirmidzi)


Hadirin yang dirahmati Allah !

Saat itu Rasulullah SAW menyampaikan lima nasihat kepada Abu Hurairah RA merupakan bekal kehidupan di dunia, agar mendapat kebahagiaan  yang sesungguhnya di akhirat kelak. Pertama: 

اِتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ،

“Tinggalkanlah  segala keharaman agar engkau menjadi orang yang terbaik dalam beribadah kepada Allah.”

Orang yang paling baik dalam beribadah kepada Allah adalah mereka yang bisa meninggalkan perkara haram. Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya, “Ibadah yang disertai dengan memakan (makanan) yang haram sama saja seperti (mendirikan) bangunan diatas pasir.” Oleh karena itu seyogyanya kita semua hati-hati terhadap barang haram ini, sebab akan mengakibatkan ibadahnya ditolak oleh Allah SWT.

Nasihat kedua yang disampaikan Rasulullah SAW  kepada Abu Hurairah:  

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللّٰهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

“Engkau harus ridha  dengan apa yang Allah tentukan kepadamu, niscaya kau menjadi orang yang paling kaya.” 

Adapun makna dari kaya di sini bukanlah dalam bentuk harta, melainkan kekayaan hakiki adalah kaya hati yang senantiasa membawa kepada ketenangan, karena hakikat kekayaan yang sesungguhnya bukanlah dalam bentuk harta benda melainkan dalam bentuk ketenangan. sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلٰكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati.” (HR. Ibnu Majah).

Orang yang kaya hati disebut qana’ah, yakni selalu merasa puas dengan apa yang Allah SWT berikan kepadanya, juga tidak pernah merasa iri dan dengki kepada orang yang diberikan kelebihan oleh Allah Azza wa Jalla. Hal demikian akan mengakibatkan selalu bersyukur walaupun Allah berikan sedikit kepadanya. Orang yang kaya hati adalah orang yang tidak akan pernah melihat orang yang lebih baik nasibnya daripada dia, akan tetap selalu ia melihat kepada yang lebih susah dari hidupnya.


Hadirin yang berbahagia !

Adapun nasihat yang ketiga adalah: 

وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا

“Berbuat baiklah terhadap tetanggamu niscaya kamu menjadi seorang Mukmin”.


Tetangga yang shaleh, merupakan faktor yang tidak bisa dianggap remeh. Sebab manusia sebagai mahluk sosial tidak bisa hidup sendiri,  senantiasa membutuhkan bantuan orang lain, bisa jadi dari urusan yang dianggap kecil sekalipun. Pantas kalau Rasulullah SAW sangat memperhatikan dalam hal memuliakan tetangga, sebagaimana beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya” (H. R. Bukhari).


Tanpa bantuan orang lain kita bukan apa-apa juga bukan siapa-siapa, semua yang kita miliki dan kita nikmati sebenarnya adalah bantuan dari tetangga kita, baik itu tetangga dekat juga tetangga yang jauh. Oleh karena itu mari kita jalin sillaturahmi dengan mereka, agar yang renggang menjadi dekat kembali, dan yang retak menjadi rekat kembali, yang terkoak supaya nyambung kembali.

Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan nasihat yang keempat:

وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا

“Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi seorang Muslim”.


Rasa saling mencintai merupakan modal utama untuk mencapai ketenangan dalam hidup dan kehidupan yang disebut sakinah. Baik dalam berumah-tangga, bertetangga, bahkan yang lebih besar dari itu dalam berbangsa dan bernegara. 

Dalam kalimat lain juga sering kita sebut dengan istilah Sillatur-rahim atau menyambungkan tali kasih sayang dengan sesama manusia bahkan dengan semua makhluk yang ada di alam raya ini, dibuktikan dengan tumbuhnya sikap saling menyayangi bahkan dengan orang yang membenci dirinya.

Sejatinya seorang Muslim akan merasa senang ketika melihat orang lain berada dalam kesenangan, dan ikut merasa susah ketika melihat orang lain dalam kesusahan. Sebaliknya seburuk-buruk watak orang Islam adalah yang merasa senang ketika orang lain ditimpa kesusahan, dan merasa susah manakala melihat orang lain ada dalam kesenangan. Naudzubillahi min dzalik, hendaknya sifat ini dijauhkan dari kita semua, dengan senantiasa mendekatkan diri kehadlirat Allah Subhanahu wa Taala.


Hadirin Rahimakumullah !

Nasihat yang terakhir atau yang kelima, disampaikan Rasulullah SAW kepada Abu Hurairah:  

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ القَلْبَ

 “ Dan janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa mengakibatkan mati hati.”


Tertawa adalah bentuk ekspresi dari kebahagiaan seseorang, namun  terbahak-bahak bisa menjadikan seseorang lupa diri. Dalam makna yang lebih luas bisa berarti terlalu banyak hiburan sampai melupakan kewajiban yang berupa ibadah kepada Allah SWT. Bagaimana jadinya kalau saat itu maut menjemput, tentu hal yang sangat tidak diharapkan. 

Hiburan adalah perkara yang mubah, akan tetapi manakala melupakan kewajiban utama yakni beribadah kepada Allah, tentu menjadi keburukan yang dilarang dalam Islam, sebab lisannnya akan kering dari berzikir mengingat Allah SWT.

Dalam hadits Qudsi Nabi SAW bersabda:

إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى يَقُوْلُ : يَا ابْنَ اٰدَمَ, تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ، أَمْلأْ صَدْ رَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكْ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)”.


Allah SWT menjanjikan kepada orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan dua hadiah sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepadaNya dengan sepenuhnya dengan dua siksa. Adapun dua hadiah itu adalah Allah mengisi hati orang yang beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan kekayaan serta memenuhi kebutuhannya. Sedang dua siksa itu adalah Allah memenuhi kedua tangan orang yang tidak beribadah kepadaNya sepenuhnya dengan berbagai kesibukan, dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan kepada manusia.


Hadirin yang dirahmati Allah !

Lima resep kehidupan yang disampaikan Rasulullah SAW kepada Abu Hurairah empat belas abad yang lampau ketika diaplikasikan dalam kehidupan di masa kini, tentulah akan membawa kemaslahatan dan mempererat tali silaturahmi diantara kita semua. 

Mudah-mudahan diberi kekuatan untuk mengamalkannya. Dan semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang khusnul khatimah. Mati dalam puncak keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Amiin ya Rabbal alamiin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ،, 

فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .

KHUTBAH KEDUA:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَى .

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ .

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ .

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ : اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . 

وَقَالَ تَعاَلَى : إِنَّ اللّٰهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .

 اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ،. 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّونَا صِغِارًا .

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. 

رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ . 

عِبَادَ اللّٰهِ،: إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . 

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ .