Pencarian

>

KEMULIAAN RASULULLAH MENJADI SEBAB KEMULIAAN UMMAT

KEMULIAAN RASULULLAH 

MENJADI SEBAB KEMULIAAN UMMAT

Oleh: H. Badrul Munir Gojali, M. Ag 


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.  اللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ 


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah SWT bahwa dinegeri Indonesia yang kita cintai ini disetiap kedatangan bulan rabi’ul awal selalu menggema untuk memperingati kelahiran nabi agung rasul yang mulia yakni Nabi Muhammad Saw, disetiap level dan tingkatan dari mulai tingkat pejabat sampai tingkat rakyat, dari istana sampai mushola, dari mulai orang kota sampai kepelosok warga, ini menandakan begitu besarnya kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw.

Peringatan seperti itu memang tidak diperaktekan dan dicontohkan oleh beliau, namun peringatan tersebut banyak hikmah yang dapat kita ambil diantaranya mengenalkan kepada kita sosok yang mulia Rasulallah Saw, berkumpulnya diacara tersebut dapat memperkokoh tali perastuan dan silaturami, dengan acara tersebut mengenalkan kepada generasi-generasi kita kedepan untuk lebing mengenal islam. Lebih dari itu merayakan peringatan lahirnya Rasulallah Saw adalah kita menginginkan hidup didunia selamat, bahagia dan sejahtera juga diakhirat mendapatkan keselamatan dengan syafa’at dari Rasulallah Saw Bersama-sama di Jannatunna’iim disurganya Allah SWT.


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah Saw sekarang sudah tiada meninggakan dunia dan kita semua, bahkan kita belum pernah melihat wajahnya, bersama-sama dalam hidupnya, melihat dengan mata bagaimana akhlaknya. Tapi alhamdulillah kita sekarang bersama-sama dengan ulama-ulama sebagai pewarisnya yang akan menuntun kita menuju jalan surga, kita harus mengikuti jalan sabilul mukminin, menepati perkara yang telah disepakati oleh para ulama kita. Sebab kalau kita kelaur dari mereka maka hidup akan celaka baik celaka dunia lebih-lebih celaka akhirat.

Dalam sebuah hadis mauquf dari sahabat 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

مَا رَءَاهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَءَاهُ الْمُسْلِمُوْنَ قَبِيْحًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ قَبِيْحٌ (قال الحافظ ابن حجر: هذا موقوفٌ حسَنٌ)


Artinya: "Sesuatu yang dinilai dan disepakati sebagai perkara yang baik oleh kaum Muslimin, maka ia menurut Allah baik, dan sesuatu yang dinilai dan disepakati sebagai perkara buruk oleh kaum Muslimin, maka ia menurut Allah buruk". (Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Hadis ini adalah hadis mauquf yang hasan").

Di antara perkara yang dinilai baik oleh kaum Muslimin dari masa ke masa dan disepakati sebagai sesuatu yang disyariatkan adalah merayakan Maulid Baginda Nabi Muhammad SAW.

Ma'asyiral Muslimin jemaah Jumat yang dirahmati Allah. 

Kita semua wajib untuk bahagia dan bersyukur karena telah ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi umat Nabi Muhammad. Nabi terakhir yang derajat dan kemuliaannya melebihi para Nabi sebelumnya, bahkan keberadaan alam semesta ini tidak lain hanya karena adanya Nabi. Allah tidak akan menciptakan alam semesta seandainya bukan karena baginda Nabi Muhammad Saw.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Bushiri dalam Qasidah Burdahnya, ia mengatakan:

وَكَيْفَ تَدْعُو اِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَةُ مَنْ * لَوْلاَهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ

Artinya: "Bagaimana mungkin Nabi Muhammad tertarik pada dunia, andai saja tanpa keberadaannya maka dunia tidak akan pernah ada."


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad Saw merupakan Nabi yang paling mulia nan paling agung melebihi Nabi-Nabi yang lain. Dengan demikian maka meniscayakan bahwa kita juga akan menjadi umat yang lebih mulia dari umat-umat Nabi yang lain. Hal ini juga ditegaskan Imam al-Bushiri dalam burdahnya, ia mengatakan:


لَمَّا دَعَا اللهُ دَاعِيْنَا لِطَاعَتِهِ * بِأَكْرَمِ الرَّسْلِ كُنَّا أَكْرَمَ الْأُمَمِ

Artinya: "Tatkala Allah panggil Nabi pengajak kita karena ketaatannya kepada Allah dengan panggilan rasul termulia, maka jadilah kita umat yang paling mulia pula."

Allah SWT telah menjadikan kita umat yang paling agung nan paling mulia melebihi umat para Nabi terdahulu. Hal itu tidak lain selain karena jasa dan perjuangan Nabi Muhammad Saw. Maka kita merasa bersyukur telah dijadikan ummat yang mulia karena kemuliaan Nabi Muhammad Saw. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ 


Artinya: "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. " (QS Ali 'Imran [3]: 110).

Asbabun nuzul ayat ini diriwayatkan bahwa dua orang keturunan yahudi berkata kepada Ibnu Mas’ud dan Mu`adz bi Jabal dengan perkataan

 دِيْنَنَا خَيْرٌ مِّمَّا تَدْعُوْنَا إِلَيْهِ وَنَحْنُ اَفْضَلُ مِنْكُمْ 

Agama kami adalah agama yang lebih baik daripada agama kalian, agama kami adalah lebih baik dari agama yang kalian da’wahkan dan bangsa kami adalah bangsa yang lebih unggul daripada bangsa kalian. 

Dari kejadian tersebut kemudian turunlah ayat ini sebagai bantahan terhadap mereka. Bahwa umat yang terbaik adalah umat yang setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul, yakni umat Islam.

Selanjutnya Ibn al-Jauzi berpendapat diantaranya bahwa كُنْتُمْyang dimaksud ayat di atas adalah seluruh umat Nabi Muhammad yang beriman. Jadi, umat islam adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena eksistensinya nampak di hadapan manusia, selalu menyuruh kepada ma`ruf, dan mencegah dari munkar, dan beriman kepada Allah.

Kita dilahirkan oleh Allah menjadi umat terbaik  itu mutlak kebenarannya, namun kita jangan terlena dengan label tersebut sementara kenyataan sekarang umat islam diindonesia dalam keadaan terebelakang dibanding dengan negara-negara yang mayoritas bukan islam, kita lemah dibanding dengan negara-negara yang mayoritas berpenduduk non muslim dalam segala bidang. Kenapa ini terjadi? Jawabanya karena kita mengaku umat islam tapi tidak mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, tidak merasa bangga dengan mengamalkan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad bersabda

يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لا يَبْقَى مِنَ الإِسْلامِ إِلا اسْمُهُ , وَلا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلا رَسْمُهُ , مَسَاجِدُهُمْ يَوْمَئِذٍ عَامِرَةٌ , وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى , عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ , مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ , وَفِيهِمْ تَعُودُ

Artinya: “Akan datang suatu Zaman pada manusia, di mana pada waktu itu tidak tinggal Islam kecuali namanya saja, Dan tidak tinggal Al-Quran melainkan tulisannya saja, Masjid-masjid dibangun megah namun kosong dari petunjuk, Dan ulama mereka adalah makhluk yang terjelek yang berada di kolong langit, dari mulut-mulut mereka keluar fitnah dan (sungguh, fitnah) itu akan kembali kepada mereka.” [HR. Al-Baihaqi]

Maka kita buktikan sebagai khoiru ummah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tunjukan islam itu cinta kedamaian, jadilah sebagai pelopor dalam kemaslahatan lingkungan kita dan menjadi  individu atau kelompok masyarakat yang berhasil mempraktikkan Moderasi Beragama sudah tentu akan menjadi pribadi terbaik. Sebab, mereka menempatkan sesuatu secara seimbang dan proporsional, bersikap pertengahan dalam pandangan dan praktik beragama, bermasyarakat, dan berbangsa. 

Khairu Ummah juga akan terwujud dengan sikap saling menyayangi dan menghormati dengan sesama umat manusia. Perbedaan hanyalah identitas yang disatukan dengan kuatnya komitmen untuk berbuat yang terbaik bagi umat, bangsa, negara serta kepentingan dunia. Khairu Ummah adalah mereka yang paling besar rasa kasih sayangnya kepada sesama umat manusia dan alam semesta.


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Diakhir khutbah ini mari kita samakan presepsi, satukan Langkah kita ummat islam untuk menjadi pelanjut misi rasulallah Saw sebagai penebar dan pengamal nilai-nilai agama dalam kehidupan kita sehari-hari terutama dalam berbangsa dan bernegara. Jadikan nilai dakwah dalam membuktikan bahwa islam itu rahmatan lilalamiin, membawa kesejukan dan kedamaian, membawa keharmonisan dan kebersamaan bukan sebaliknya mengaku sebagai khoiru ummah tapi membangga-banggakan sendiri dan menjatuhkan yang lain tidak bisa menjaga dan merawat kebhinekaan. Mudah-mudahan bangsa kita terhindar dari perpecahan dan pertengkaran, terhindar dari malapetaka, dijauhkan dari segala musibah dan bencana. Amiin ya rabbal alamiin


بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ


Khutbah II

   اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ   فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰ لِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ   اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ   عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ