Pencarian

>

ISLAM AGAMA KASIH SAYANG

ISLAM AGAMA KASIH SAYANG

Oleh: Cecen Ahmad Khusaeri

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ بِرَحْمَتِهِ اهْتَدَى الْمُهْتَدُوْنَ، وَبِعَدْلِهِ وَحِكْمَتِهِ ضَلَّ الضَالُّوْنَ،. 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، تَرَكْنَا عَلَى مَحجَّةٍ بَيْضَاءَ لَا يَزِيْغُ عَنْهَا إِلاَّ أهُلُ الْأَهْوَاءِوَالظُّنُّوْنِ،.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمٍ لَا يَنْفَعُ فِيْهِ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ .

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ .

وَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ , بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ ٱلْقَلْبِ لَانْفَضُّوْامِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۚ إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ .

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah !

Sejak zaman nabi Adam AS sampai saat ini banyak polemik di muka bumi, dari mulai tingkat keluarga, masyarakat bahkan sampai negara dan bangsa. Semuanya bersumber dari persoalan hilangnya kasih sayang.

Mari kita tengok ke pengadilan agama, tingkat perceraian yang terjadi adalah diakibatkan hilangnya kasih sayang antara suami dan isteri, demikian pula dengan pertengkaran sampai tidak pidana adalah karena putusnya kasih sayang. Lebih dari itu, gesekan di masyarakat yang memicu adanya konflik antar kelompok sampai antar negara juga diakibatkan hilangnya rasa kasih sayang. Oleh karena itu dalam berbagai agama, kasih sayang menjadi materi pokok yang bisa merajut ketenangan di berbagai elemen masyarakat dan bangsa.

Demikian halnya, banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’anul-karim juga hadits-hadits, yang menjelaskan kewajiban menjalin kasih sayang ini. Bahkan di setiap aspek ibadah ada hikmah dalam menjalin kasih sayang ini. Shalat, zakat, shaum Ramdhan, ibadah haji, shadaqah, silaturahim, dan sebagainya. Semuanya akan menjadi sempurna manakala pelakunya menjalankan dengan penuh kasih sayang terhadap seluruh makhluk yang ada di alam raya ini, lebih-lebih terhadap manusia yang mempunya perasaan dan pikiran.

Allah SWT memuji baginda Rasulullah SAW karena benar-benar berdakwah dengan kelembutan dan kasih sayang. Sebagaimana firman-Nya yang tertuang dalam surat Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ ٱلْقَلْبِ لَانْفَضُّوْامِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۚ إِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ .

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran: 159).

Hadirin Rahimakumullah !

Surat Ali Imran ayat 159 ini menjelaskan bahwasanya Rasulullah memberi suri tauladan dalam berprilaku juga tatacara bermufakat dengan orang lain, sehingga kesuksesan dakwah beliau SAW adalah berkat kelembutan hatinya. Sebaliknya andaikan saat itu Rasulullah berdakwah dengan kasar dan keras, tentu akan dijauhi oleh masyarakat, karena menimbulkan sikap antipati. 

Hendaknya, teladan ini bisa diterima dan dijadikan salah satu rujukan baik dalam berkeluarga, hidup bermasyarakat ataupun dalam kepemimpinan juga dalam pola berdakwah. Sebab sikap keras dan kasar dalam berbicara dan bertindak adalah sikap yang secara fitrah dibenci oleh manusia.

Sikap lemah lembut dan cinta kasih yang ditanamkan Allah SWT kepada Rasulullah ini mempengaruhi sikap beliau dalam memimpin. Selain bersikap lemah lembut dan mengutamakan musyawarah, apabila menghadapi suatu masalah Rasulullah SAW selalu bermusyawarah dengan mereka untuk mencari solusi yang terbaik. Diantaranya adalah musyawarah mengenai poisisi Rasulullah dalam berperang. Hingga akhirnya Al-Munzir ibnu Amr mengusulkan agar Rasulullah berada di hadapan pasukan kaum muslimin.

Pasukan yang dikomandani Nabi Muhammad mengalami kekalahan ketika menghadapi pasukan Quraisy pada tahun ke-3 Hijriyah di bukit Uhud. Menurut catatan sejarah, kekalahan itu diakibatkan oleh ketidakpatuhan pasukan pemanah yang dipercaya untuk menjaga bukit. Mereka justru turun di tengah peperangan untuk memperebutkan ghanimah (harta rampasan perang). Akibat kelalaian tersebut, pos-pos yang ditinggalkan dengan segera dapat dikuasai oleh pasukan musuh. Mereka berhasil melakukan serangan balik untuk pasukan Islam.

Dengan penuh sabar Rasulullah marah, Rasulullah justru menjaga emosinya dan juga lemah lembut terhadap pasukannya. Beliau tidak terbawa kemurkaan sesaat yang menyesatkan. Oleh karenanya, Allah memuji sikap Rasulullah dalam surat Ali Imran ayat 159.

Hadirin yang berbahagia !

Banyak sekali kisah-kisah yang menggambarkan kebesaran hati baginda Rasulullah SAW yang diaplikasikan dengan cara kasih sayang dalam membina keluarganya. Diantaranya dalam sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu , beliau menyampaikan:

رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيْمِيُّ جَالِسًا. فَقَالَ: "الْأَقْرَعُ , إِنَّ لِيْ عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا”. فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ 

“Suatu saat Rasulullah SAW mencium (cucu beliau) al-Hasan bin ‘Ali dan saat itu ada al-Aqra’ bin Hâbis at-Tamimy duduk di samping beliau. Serta merta al-Aqra’ berkomentar, “Aku memiliki sepuluh anak, sungguh tidak pernah satupun di antara mereka yang kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam pun memandangnya seraya berkata, “Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi!”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah !

Kasih sayang dalam Islam bukan hanya perasaan atau emosi semata, tetapi juga membutuhkan tindakan nyata dalam bentuk kepedulian kepada sesama makhluk, sehingga tercipta saling menyayangi dan saling  memperhatikan. Dalam sabda Rasulullah SAW:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ؛ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam ukhuwah, kasih sayang dan kepedulian sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh akan bersolidaritas dengan ikut begadang dan merasa sakit”. (HR. Bukhari dan Muslim). 

Mudah-mudahan kemulyaan kasih sayang yang dicontohkan oleh Rasulullah ini, bukan sekedar slogan semata, melainkan menjadi akhkakul-karimah yang diaplikasikan oleh kita semua, sehingga akan berdampak terhadap ketenangan baik pribadi, keluarga, masyarakat lebih-lebih dalam menjaga ketentraman hidup berbangsa dan bernegara.

Amiin ya Rabbal alamiin.


بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ .


KHUTBAH KEDUA:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى،. 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اَلْعَلِيُّ الْأَعْلى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ النَّبِيُّ الْمُصْطَفٰى وَالرَّسُوْلُ الْمُجْتَبٰى .، 

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدٰى .

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ : اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . 

وَقَالَ اللّٰهُ تَعاَلَى : إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْن اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ , وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ,

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ . 

اَللّٰهُمَّ انْصُرْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالنَّاصِرِيْنَ , وَافْتَحْلَنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالْفَاتِحْيْنَ , وَاغْفِرْلَنَافَإِنَّكَ خَيْرُالْغَافِرِيْنَ , وَارْحَمْنَا فَإِنَّكَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ , وَاهْدِنَا وَنَجِّنَامِنَ الْقَوْمِ الظّالِمِيْنَ .

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ . 

رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 

عِبَادَ اللّٰهِ،, اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ