EMPAT NILAI KETELADANAN PARA PAHLAWAN KEMERDEKAAN
Oleh : Jajang Sukandar
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِي , صَدَقَ اللّٰهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ، وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ، وَنَحْنُ عَلىٰ ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Pada kesempatan kali ini, khatib ingin mengangkat tema tentang Empat Nilai Keteladan Pahlawan Kemerdekaan.
Adapun yang dimaksud pahlawan dalam tema khutbah ini adalah pahlawan dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, yakni orang yang berjasa untuk bangsa dan negara dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari para penjajah yang dilandasi kecintaan kepada negeri dan tanah tumpah darahnya (Hubb al-wathan min al-iman).
Sidang Jumat yang dirahmati Allah
Para pahlawan sudah mengorbankan jiwa dan raga untuk mewujudkan kemerdekaan sehingga kita bisa menghirup udara kebebasan, beraktivitas dengan tenang dan nyaman, dapat beribadah kepada Allah dengan khusyuk, berbeda dengan saudara-saudara kita yang berada di wilayah konflik peperangan di berbagai penjuru dunia saat ini. Mereka tentu sangat susah mencapai ketenangan dan kenyamanan dalam berbagai aktivitas karena mereka hidup dihantui kecemasan akan keselamatan diri di tengah desingan peluru dan ancaman bom yang bisa datang sewaktu-waktu dan kondisi hidup seperti ini telah darasakan pula oleh orang tua kita yang hidup di era penjajahan, oleh sebab itu sejatinya kita bersyukur atas nikmat kemerdekaan, seiring dengan firman Allah SWT dalam surat Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan ketika Tuhan kalian mengumumkan; Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti aku menambah (nikmat) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmatku), maka sesungguhnya azabku sangat pedih”(QS Ibrahim (14) : 7)
Imam Hafidz 'Imaduddin Abu Alfida Ibnu katsir dalam tafsir Alquranul 'Adhim menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Allah menjanjikan dua konsekuensi ketika manusia memilih salah satu dari keduanya. Pertama, ketika manusia bersyukur maka Allah akan menambah nikmat yang diterima, kedua apabila kufur maka justru nikmat tersebut akan dicabut bahkan mereka akan disiksa.Oleh sebab itu syukur dari nikmat kemerdekaan bisa kita wujudkan sebagai berikut;
Pertama memperingati hari pahlawan.
Di Indonesia setiap tanggal 10 Nopember diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional RI. Tanggal ini mengacu pada peristiwa pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme di Surabaya.
Kedua Meneladani Para Pahlawan Kemerdekaan.
Dalam berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diwariskan oleh para pahlawan ini, kita bisa mencontoh nilai-nilai dan semangat yang mereka miliki dan kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, diantaranya sebagai berikut:
Nilai pertama adalah keihkasan.
Para pahlawan untuk meraih kemerdekaan mereka rela berkorban jiwa, raga maupun harta tanpa mengharapkan balasan atau imbalan atas apa yang telah diperbuatnya.
Nilai keikhlasan ini sejatinya kita realisasikan dalam perjuangan mengisi kemerdekaan dengan kerja keras, kerja cerdas, meningkatkan kualitas diri dengan sandaran utama pada nilai-nilai integritas, profesionalitas, inovasi, tanggungjawab, dan keteladanan dengan menjunjung tinggi sikap keikhlasan, sesuai dengan firman Alah dalam surat Az Zumar ayat 2 :
اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَۗ
Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.(QS.Az Zumar (39) : 2 )
Nilai kedua adalah kesabaran
Kemerdekaan Indonesia diraih bermodal kesabaran yang dimiliki oleh para pahlawan dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. mereka sabar menghadapi kesusahan hidup akibat diburu oleh musuh yang berkekuatan besar dan juga sabar dalam mengarungi medan perjuangan yang berliku-liku dengan sarana apa adanya.
Seandainya mereka kehilangan kesabaran mungkin kita tidak bisa menikmati apa yang pernah mereka tanam dalam mengisi kemerdekaan. Dalam jiwa para pahlawan nampak tidak ada batas dalam bersabar sehingga pahala buat mereka para pahlawan tidak terbatas juga. Seiring dengan firman Allah Swt dalam surat Az Zumar ayat 10;
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Az-Zumar (39) : 10).
Begitu agungnya sikap sabar ini, maka Allah pun menyertai orang-orang yang sabar, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Anfal:46:
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan bersabarlah! Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal (8) :46).
Nilai-nilai kesabaran ini sejatinya kita aplikasikan dalam perjuangan mengisi kemerdekaan melalui kesabaran belajar bagi para generasi muda, kesabaran dalam bekerja bagi para orang tua, kesabaran menjalankan tugas kenegaraan bagi aparatur negara dan kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan zaman oleh seluruh elemen masyarakat.
Nilai ketiga, keberanian.
Keberanian yang dimiliki para pahlawan kemerdekaan membuat gentar para penjajah walau hanya bermodal bambu runcing, sementara para penjajah menggunakan peralatan senapan sampai dengan meriam dan tank baja, namun para pahlawan tidak mundur setapak pun.
Nilai-nilai keberanian ini sejatinya kita lestarikan dan aplikasikan dalam perjuangan mengisi kemerdekaan yakni keberanian dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan,keberanian menghadapi masa depan dengan menjadi jiwa yang kuat. keberanian menjadi agen perubahan yang berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa dan negara.
Sikap keberanian ini sebenarnya sudah diajarkan oleh Rasulullah saw kepada kita. Di saat beliau dan Sayidina Abubakar Ash-Shiddiq bersembunyi dari kejaran musuh di gua Tsur, beliau bersabda kepada Abubakar sebagaimana tercantum dalam surat At-Taubah ayat 40:
لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”. (QS. At-Taubah (9) : 40)
Nilai keempat keteguhan
Keteguhan yang dimiliki para pahlawan menjadi modal dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan sehingga tidak mudah terpengaruh oleh propaganda dan iming-iming dari para penjajah. Nilai ini selaras dengan firman Allah dalam surat Hud ayat 112
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS Hud (11) : 112).
Nilai keteguhan ini sejatinya kita lestarikan dan aplikasikan dalam perjuangan mengisi kemerdekaan diantaranya kita tidak mudah terombang-ambing oleh banjirnya informasi yang ada di berbagai media sosial juga tidak mudah terprovokasi oleh informasi-informasi yang bisa memecah belah umat dan meruksak empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka tunggal ika karena ini merupakan satu kesatuan sebagai perekat dan memperkokoh kesatuan bangsa.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari materi khutbah ini, semoga Peringatan hari pahlawan menjadi spirit untuk melestarikan dan mengaplikasikaan nilai keikhlasan, kesabaran, keberanian dan keteguhan dalam mengisi kemerdekaan yang telah dicontohkan oleh para pahlawan kemerdekaan. Semoga kita sebagai generasi penerus, dapat meneladani para pahlawan sebagai salah satu modal besar untuk mengisi kemerdekaan. Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر