EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT
Oleh : Jajang Sukandar
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه،صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, فَقَالَ اللهُ تَعَالَى، وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ صَدَقَ اللهُ صَدَقَ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ، وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ، وَنَحْنُ عَلىٰ ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ
Sidang Jumat yang dirahmati Allah
Marilah kita sama-sama panjatkan puji dan sukur ke hadirat Allah. Alhamdulillah, di tengah kesibukan, kita masih diberikan kekuatan untuk memenuhi panggilan salat Jumat ini. Kekuatan itu tentu tidak lahir dari hati yang kosong tanpa keyakinan bahwa hidup bukan sekadar mengejar nikmat duniawi, tetapi juga nikmat ukhrawi.
Shalawat dan salam juga semoga dilimpahkan pada keluarga dan para sahabatnya, juga mudah-mudahan kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaat darinya. Amin yarabbal alamin.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah
Pada kesempatan ini, khatib mengangkat tema khutbah : 4 Cara Mensyukuri Nikmat
Secara etimologi nikmat berarti hidup senang dan mewah, asalnya dari bahasa Arab yaitu na’ima, yan’amu, na’matan, wa man’aman, mengikuti wazan fa’ila, yaf’alu. Masdarnya : na’matan, masdar mimnya : man’aman, ketika menjadi isim jadi an-ni’matu, bentuk jamaknya menjadi ni’amun wa an’amun yang artinya kesenangan dan kebahagiaan.
Secara terminologi menurut M. Quraish Shihab, nikmat itu sejalan dengan kesenangan dan kenyamanan hidup manusia. Nikmat menghasilkan keadaan bahagia dan tidak mengarah pada hal-hal negatif, termasuk materi dan non materi, Kata tersebut mencakup keutamaan dunia dan akhirat.
Sidang Jumat yang dirahmati Allah
Nikmat yang Allah Swt berikan kepada kita sebagai manusia tentu amat banyak, tidak bisa dihitung bahkan sekalipun dengan menggunakan alat yang sangat canggih, layaknya komputer yang mampu menyimpan dan merekam miliaran data. Pernyataan ini ditegaskan Allah Swt dalam surat an Nahl ayat 18:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللّٰهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.an Nahl (16) : 18)
Nikmat yang kita rasakan tentu banyak ragamnya, menurut Ibnu Qayyim, Nikmat dibagi menjadi tiga jenis yaitu
pertama adalah nikmat yang diterima oleh seorang hamba dan hamba itu mengetahuinya, kedua adalah nikmat yang diharapkan dan ditunggu oleh seorang hamba, ketiga adalah nikmat yang sedang digunakan oleh seorang hamba namun tidak disadarinya.
Salah satu kewajiban kita atas nikmat yang diberikan Allah Swt adalah mensyukurinya, sesuai dengan firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7 sebagai berikut:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, "Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim(14): 7)
Merujuk pada ayat Alquran tersebut di atas, kata syukur berasal dari kata “syakara” yang berarti membuka. Para ahli bahasa Al Qur'an seperti Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitabnya, Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an menjelaskan bahwa kata “syakara” lawan dari kata “kafara” yang artinya menutup. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa makna syukur antara lain ialah “menampakan”, dan ini berlawanan dengan kata kufur yang berarti “menutupi”. Sehingga, pada hakikatnya syukur ialah menampakan nikmat dengan menggunakannya dengan sebaik mungkin dan sesuai dengan kehendak pemberi.
Imam Hafidz 'Imaduddin Abu Alfida Ibnu katsir dalam tafsir Alquranul 'Adhim menjelaskan bahwa dalam surat Ibrahim ayat 7 tersebut, Allah menjanjikan dua konsekuensi ketika manusia memilih salah satu dari keduanya. Pertama, ketika manusia bersyukur maka Allah akan menambah nikmat yang diterima, kedua apabila kufur maka justru nikmat tersebut akan dicabut bahkan mereka akan disiksa.
Fakhruddin ar-Razi menerangkan dalam Mafatihul Ghaib bahwa kandungan utama dalam Surat Ibrahim ayat tujuh setidaknya ada tiga : Pertama, pada hakikatnya syukur merupakan ungkapan rasa pengakuan diri atas nikmat dari yang Maha Pemberi. Kedua, janji Allah untuk menambah kenikmatan bagi yang merasa bersyukur. Ketiga, sikap kufur akan nikmat bisa menyebabkan rasa tersiksa karena tidak tahu bahwasanya nikmati itu nersimber dari Allah Swt.
Menurut Imam Ghazali cara mensyukuri nikmat yang diberikan oleh kepada kita, ada empat yaitu;
Pertama bersyukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bersyukur dengan hati juga bisa membuat seseorang bersikap menerima terhadap karunia Allah SWT dengan penuh keikhlasan, tanpa rasa kecewa betapapun kecilnya nikmat tersebut. Seseorang yang bisa menerima ketetapan Allah SWT dengan ikhlas tentu akan merasa cukup dalam hidupnya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nahl ayat 53 :
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَۚ
"Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah. Dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan." (QS An-Nahl: 53).
Kedua bersyukur dengan lisan, ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, maka spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah). “Al” pada kalimat “Alhamdulillah” berfungsi sebagi “istighraq” yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah Swt, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam sebagai teladan terbaik mencontohkan bagaimana beliau selalu memuji Allah dalam setiap keadaan, seperti tercantum dalam hadis riwayat Imam Bukhari sebagai berikut:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا. وَإِذَا قَامَ قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam ketika menuju tempat tidurnya maka mengucapkan : “Dengan nama-Mu aku mati dan hidup”, dan ketika terbangun maka beliau mengucapkan : “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali.”
Ketiga, Syukur dengan perbuatan, mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, membantu orang miskin, yatim piatu dan perbuatan baik lainnya.
Keempat menjaga Nikmat dari Kerusakan, ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya: Ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit. Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam, kita wajib menjaganya dan memupuknya dengan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis taklim, berdzikir,bershodaqoh, berdoa dll.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian materi khutbah tersebut diatas adalah, kenikmatan yang dianugrahkan Allah Swt kepada kita tidak terhitung,baik yang terasa maupun yang tidak terasa,oleh sebab itu sewajarnyalah kita bersyukur dengan hati,lisan dan perbutan juga dapat menjaga nikmat tersebut dengan harapan nikmat tersebut dapat mendorong kita untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Mudah-mudahan kita semua selalu diberi-Nya kemudahan untuk bersyukur kepada Allah SWT dan dicatat sebagai hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Semoga pula kelak di akherat kita semua akan dukumpulkan dengan para syakirin. Amin, amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ الأَيَاتِ وَألذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah ke 2
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ