Takashimaya hotel – Bandung Barat (Humas Bimas Katolik)
“Tri tangtung di bumi, rama, resi, prabu, tiga
yang berpengaruh di muka bumi itu, orang tua, guru, dan
pemimpin kita", demikian Kepala Bagian Tata Usaha Kantor
Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Drs. H. Mohammad Ali Abdul Latif M.M.
menyampaikan isi sambutannya mewakili Kepala Kanwil sekaligus
membuka acara Kegiatan Penguatan Moderasi Beragama Bagi Orang Muda Katolik
se-Jawa Barat, Jum’at, (24/11/2023) di Takasimaya Hotel Lembang Kabupaten
Bandung Barat.
Kabbag TU di hadapan peserta orang muda katolik mengajak untuk memahami
arti kearifan lokal yang merupakan salah satu indikator moderasi beragama.
H. Ali menerangkan, local wisdom (Kearifan Lokal) dengan menggunakan makna
budaya sunda pada beberapa peribahasa, di antaranya sebagaimana makna
yang disampaikan di awal, tentang “Tri Tangtung
di Bumi Rama, Resi, Prabu.”
“Budaya itu adalah ajaran kebaikan menyuruh kita untuk berbakti kepada,
orang tua, hormat kepada guru dan taat kepada pemerintah,” ungkap Ali
“Ajaran tersebut pasti ada juga di kitab agama-agama besar yang diakui
Pemerintah Indonsia, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghuchu,” imbuhnya.
“Itulah salah satu contoh persamaan dan kebenaran agama-agama di Indonesia
yang sejalan dengan budaya lokal. Hal itu untuk terus menjadi penguat
persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” terangnya.
Mengapa kita perlu ada penguatan moderasi beragama, tanya H. Ali., ia
jawabnya lagi, “dengan adanya kata penguatan artinya kita sudah melaksanakan
kehidupan beragama, namun harus terus dikuatkan dengan mengadakan kegiatan di
setiap tahun.”
Ada empat Indikator Moderasi Beragam, pertama kearifan
lokal yang telah dicontohkan di atas. kedua, anti
kekerasan. “Boleh kita saling berdebat tetapi dalam sebuah diskusi yang tidak
mengarah kepada kekerasan fisik,” terangnya.
Kemudian ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) yang merupakan bingkai perekat kebangsaan Indonesia, persatuan seluruh bangsa dalam rangka melaksanakan
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Keempatnya, H. Ali katakan, “Toleransi, yaitu bagaimana kita bekerja sama, bagaimana
kita punya kesetaraan yang sama, dan bagaimana kita punya sikap saling memahami
dari sisi perbedaan dan persamaan kita dalam kehidupan beragama.”
"Sikap
Moderasi beragama adalah cara pandang untuk bagaimana persamaan itu dapat
menjadi sebuah sikap toleran. Jadi bukan perbedaan yang dikedepankan tetapi
persamaan yang harus di kedepankan," tambahnya.
Kegiatan yang
berlangsung selama 3 hari, 24 s.d. 26 November 2023. Hadir mendampingi Kepala Bagian
Tata Usaha, Pembimas Katolik, ROSENTINA LOPES, S.Pd,. Ketua
Pelaksana PX Magi S.Ag. M.AP dan 40 peserta Orang Muda Katolik
se-Jawa Barat.
Tujuan kegiatan disampaikan ketua pelaksana, adalah untuk
mewujudkan orang muda Katolik yang moderat , inklusip dan
toleran.
Kontributor : Asep Naja Somantri