BERSIKAP MODERAT DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA DAN SOSIAL
Oleh: H. Wiwin, S.Ag., M.I.Kom.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَ: وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللّٰهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah!
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala anugerah nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahcurahkan kepada nabi kita, nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad SAW.
Sebagai khatib saya mengajak kepada hadirin sekalian untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan senantiasa menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Hadirin sidang jum’at yang dimuliakan Allah!
Islam adalah agama yang moderat dan oleh karenanya Islam mengajarkan sikap moderat kepada penganutnya. Sikap moderat adalah sikap yang cenderung mengambil posisi di tengah-tengah, seimbang, dan bersikap adil.
Sikap moderat sangat diperlukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik dalam kehidupan beragama atau pun dalam kehidupan sosial. Bahkan dalam menempuh kehidupan ini pun Islam mengajarkan sikap yang moderat. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT dalam Dalam QS. Al-Qashash ayat 77:
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyuaki orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Kita juga diajarkan do’a “sapu jagat” yang moderat, tidak hanya memohon kebaikan di dunia tapi juga kebaikan di akhirat (QS. Al-Baqarah ayat 201):
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Dan diantara mereka ada yang berdo’a: Ya Tuhan Kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari sikas api neraka.”
Hadirin sidang jum’at yang berbahagia!
Dalam kehidupan beragama sikap moderat sangat lah diperlukan. Sebab jika tidak, maka orang akan terjebak pada sikap ghuluw, yakni sikap berlebih-lebihan atau melampaui batas. Sikap ghuluw bisa terjadi dalam hal akidah atau ibadah.
Sikap ghuluw dalam akidah misalnya menganggap nabi sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Kendati Nabi kita, yakni Nabi Muhammad SAW merupakan makhluk paling mulia, tetapi kita jangan sekali-kali menempatkannya secara berlebihan sampai menganggap beliau itu sama setara dengan Tuhan atau kita anggap sebagai anak Tuhan. Sebab hal itu merupakan sikap ghuluw sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani terdahulu. Hal itu seperti dijelaskan dalam QS At-Taubah ayat 30:
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
Artinya: “Dan orang-orang Yahudi berkata:”Uzair adalah putera Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata:”Al-Masih adalah putera Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka. Allah memerangi (melaknat) mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?”
Sikap ghuluw dalam ibadah misalnya mewajibkan sesuatu yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah SWT. Atau sebaliknya mengharamkan sesuatu yang tidak pernah diharamkan oleh Allah SWT. Termasuk pula terus menerus melakukan ibadah (ritual) dengan tidak mengenal waktu.
Hal itu seperti terjadi di zaman Rasulullah SAW. Ada sahabat nabi yang terus menerus shalat malam tanpa tidur, berpuasa sunnah tanpa henti, dan tidak menikah. Rasulullah SAW melarang sikap berlebihan seperti itu dan memberi saran untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh syariat.
Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah!
Tidak hanya dalam kehidupan beragama, dalam kehidupan sosial pun sikap moderat harus kita terapkan. Ketika kita bermuamalah dengan orang lain, sikap moderat harus senantiasa ada.
Bersikap moderat dalam kehidupan sosial berarti kita bersikap baik, bersikap adil, santun, sopan, menjalin hubungan baik dengan siapa pun, menerima pendapat orang lain, mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, tidak diskriminatif, tidak memaksakan kehendak, dan lain-lain.
Kita sebagai makhluk sosial pasti membutuhkan orang lain. Kita sebagai makhluk sosial tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain. Inilah alasan mengapa kita harus bersikap baik, hidup rukun, saling menghormati, dan saling menghargai dengan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ )رواه البخاري/٥٦٧٣ (٥
Artinya: …Dari Abi Hurairah Radiyallahu ‘anhu dari Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia menyambungkan tali silaturahmi. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata baik atau diam.”
Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah!
Sikap moderat dengan demikian merupakan sebuah keniscayaan dalam kehidupan beragama dan dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu kita sebagai umat Islam yang disebut sebagai “ummatan wasathan” harus memiliki dan bisa bersikap moderat. Sebab sikap moderat memang diajarkan oleh agama kita semua.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ.
وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَيُّهاَ الّنَاس, اتَّقُوا اللهَ, اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ تعالى: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ . رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْن . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.